Senin, 21 Juni 2010

Tetaplah Ridha, Walaupun Pahit!

Seseorang dari Bani 'Abas mencari untanya yang hilang selama tiga hari sampai tidak pulang. Ia sudah berusaha mencari ke mana-mana. Padahal dia orang kaya dan memiliki segalanya. Harta dan keluarganya berada di sebuah rumah yang mewah. Mereka hidup enak, aman, dan tenang. Tidak pernah terpikir oleh mereka bahwa sebuah bencana bisa saja mengancam mereka.

Semua keluarganya, baik yang tua maupun yang kecil tertidur. Mereka hidup di tengah-tengah gemerlapnya kekayaan, sementara bapak mereka sedang tidak ada, mencari untanya yang hilang. Pada saat itulah Allah mengirimkan banjir menerjang bukit-bukit tanpa ampun, dan itu terjadi di akhir malam. Semuanya hanyut, rumah-rumah mereka lenyap, harta mereka ludes, dan semua anggota keluarganya hanyut terseret derasnya air. Kini semuanya tinggal bekas, seakan-akan mereka tidak pernah ada. Yang ada hanyalah tinggal cerita dari mulut ke mulut.

Setelah selama tiga hari mencari untanya yang hilang, si bapak ini kembali ke lembah tempat tinggalnya semula. Tapi betapa terkejutnya, dia tidak mendengar suara orang bicara, tidak ada kehidupan, dan tidak ada keceriaan seperti saat ditinggalkannya. Tempat itu hening.
Sungguh sebuah bencana yang sangat berat, tak ada lagi isteri, tak ada lagi anak-anak, tak ada lagi unta, tak ada lagi sapi, tak ada domba, tak ada dinar maupun dirham, tak ada pakaian. Tak ada apa-apa lagi. Sungguh sebuah musibah yang menghancurkan.

Satu-satunya yang tersisa adalah seekor unta yang lepas begitu saja. Dikejarnya unta itu. Ketika hampir tertangkap, unta tersebut menendang wajah orang itu, dan membuatnya buta. Orang itu pun berteriak-teriak dengan harapan ada orang yang akan membawanya ke tempat yang bisa dijadikan untuk berteduh dari panasnya matahari dan dinginnya malam.

Selang beberapa hari kemudian, semua itu terdengar oleh seorang Badui. Dihampirinya orang itu dan dituntunnya. Kemudian si bapak buta ini dibawa menghadap Al-Walid ibn 'Abdul Malik, khalifah di Damaskus. Orang itupun menceritakan kejadian yang menimpa dirinya. Kata Al-Walid, "Lalu bagaimana sikapmu?" Jawab si bapak, "Aku ridha kepada Allah."

Sebuah kalimat yang sangat agung, yang diucapkan oleh seorang Muslim yang dalam hatinya terdapat tauhid. Ia menjadi nasihat bagi orang-orang yang mencari nasihat, dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda